Informasi dan kegiatan terbaru dari desa
Bonto Daeng, 22 Januari 2026 — Di tengah arus digitalisasi yang kian masif, upaya nyata untuk mengekspos potensi desa dilakukan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 115 Universitas Hasanuddin. Muhammad Bintang Tahir, salah satu peserta KKN, secara resmi meluncurkan website Pro Daeng (Profile Digital Desa Bonto Daeng), sebuah platform inovatif yang dirancang untuk menjadi gerbang informasi digital desa. Acara peluncuran yang berlangsung khidmat ini dihadiri langsung oleh Kepala Desa Bonto Daeng, jajaran staf desa, serta seluruh perwakilan lembaga masyarakat desa. Kehadiran para tokoh masyarakat ini menunjukkan antusiasme dan dukungan penuh terhadap langkah modernisasi tata kelola informasi di desa tersebut. Website Pro Daeng hadir sebagai solusi atas kebutuhan akan transparansi dan aksesibilitas informasi desa. Platform ini memuat berbagai profil penting, mulai dari struktur pemerintahan, potensi sumber daya alam, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan yang ada di Desa Bonto Daeng. "Kehadiran Pro Daeng bukan sekadar formalitas digital, melainkan upaya untuk meletakkan Desa Bonto Daeng di peta digital dunia. Dengan profil yang terintegrasi, siapa pun kini bisa mengakses potensi desa kita dengan satu klik," ujar Muhammad Bintang Tahir dalam presentasinya di hadapan perangkat desa. Kepala Desa Bonto Daeng memberikan apresiasi yang tinggi atas inisiatif ini. Menurutnya, website ini akan sangat membantu staf desa dalam mempublikasikan program kerja dan memudahkan masyarakat maupun pihak luar dalam mencari data yang akurat mengenai desa. Peluncuran ini ditutup dengan sesi simulasi penggunaan website bagi para staf desa dan perwakilan lembaga masyarakat. Diharapkan, setelah masa KKN berakhir, pengelolaan website ini dapat dilanjutkan secara mandiri oleh perangkat desa agar tetap relevan dan bermanfaat bagi kemajuan ekonomi serta sosial Desa Bonto Daeng. Link akses website Desa Bonto Daeng: https://prodaeng.my.id
Bonto Daeng, 21 Januari 2026 — Mahasiswa Universitas Hasanuddin yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 115 menghadirkan keceriaan sekaligus edukasi melalui program bertajuk “English Fun Day” yang dilaksanakan di salah satu sekolah dasar di Desa Bonto Daeng. Program ini dirancang untuk memperkenalkan bahasa Inggris kepada para siswa dengan metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan. Program "English Fun Day" bertujuan untuk meningkatkan minat serta kepercayaan diri anak-anak sejak usia dini dalam berkomunikasi menggunakan bahasa internasional. Selain sebagai bekal pendidikan formal, kegiatan ini diharapkan dapat memperluas cakrawala berpikir generasi muda di Desa Bonto Daeng agar lebih siap menghadapi tantangan di masa depan. Kegiatan dilaksanakan di lingkungan sekolah dengan melibatkan berbagai metode belajar yang kreatif. Mahasiswa KKN menyusun kurikulum singkat yang mencakup pengenalan kosakata sehari-hari (daily vocabulary), bernyanyi bersama dalam bahasa Inggris, hingga permainan edukatif yang memicu kerja sama tim. Pendekatan ini diambil agar siswa tidak merasa terbebani dan justru merasa bahwa belajar bahasa asing adalah hal yang seru di sekolah. “Kami melihat potensi besar pada siswa di desa ini, namun akses untuk belajar bahasa Inggris secara informal masih terbatas. Melalui English Fun Day di sekolah, kami ingin menanamkan pola pikir bahwa bahasa Inggris itu mudah dan menyenangkan. Ini bukan sekadar belajar teori, tapi tentang berani mencoba,” tutur Raihanah Aldila R mahasiswa pelaksana kegiatan. Antusiasme peserta terlihat jelas di ruang kelas. Para siswa aktif mengikuti setiap sesi, mulai dari lomba mengeja kata (spelling bee) sederhana hingga praktik percakapan singkat. Pihak sekolah menyambut positif inisiatif ini, mengingat pentingnya kemampuan bahasa Inggris sebagai tambahan keterampilan bagi siswa sekolah dasar di era digital saat ini. Salah satu siswa menyampaikan rasa senangnya mengikuti kegiatan tersebut. “Saya senang sekali bisa belajar sambil bermain bersama kakak-kakak mahasiswa. Ternyata bicara bahasa Inggris tidak sesulit yang saya bayangkan,” ungkapnya dengan penuh semangat. Kepala Desa Bonto Daeng turut menyampaikan apresiasinya terhadap dedikasi para mahasiswa. Beliau berharap kegiatan ini dapat memotivasi anak-anak desa untuk terus belajar dan berprestasi. “Inisiatif mahasiswa KKN Unhas yang turun langsung ke sekolah dasar ini sangat menyentuh aspek pengembangan SDM. Kami berharap semangat belajar ini terus berlanjut ke depannya,” ujarnya. Melalui program “English Fun Day”, mahasiswa KKN Unhas berupaya memberikan dampak nyata dan berkelanjutan di bidang pendidikan. Penanaman kemampuan bahasa asing sejak dini diharapkan menjadi bekal penting bagi siswa di Desa Bonto Daeng untuk berkembang, berjejaring, dan siap menjadi generasi yang berwawasan luas.
Bonto Daeng, 19 Januari 2026 — Mahasiswa Universitas Hasanuddin yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 115 melakukan langkah nyata dalam menjaga kebersihan lingkungan melalui peluncuran program penyediaan tempat sampah umum di beberapa dusun di Desa Bonto Daeng. Program ini diinisiasi sebagai bentuk respons terhadap kebutuhan warga akan fasilitas pembuangan sampah yang memadai di titik-titik keramaian dan pemukiman. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan serta meminimalisir penumpukan sampah sembarangan yang dapat mengganggu kesehatan dan estetika desa. Kegiatan dilaksanakan secara bertahap, diawali dengan survei lokasi strategis di tiap dusun, dilanjutkan dengan pengadaan serta penempatan unit tempat sampah. Mahasiswa KKN juga memberikan edukasi singkat kepada warga mengenai pentingnya memilah sampah organik dan anorganik agar pengelolaan limbah di tingkat rumah tangga menjadi lebih tertata. “Kami melihat potensi keindahan Desa Bonto Daeng yang luar biasa, namun masih terkendala oleh kurangnya fasilitas tempat sampah di area publik. Dengan adanya penyediaan ini, kami berharap warga lebih termotivasi untuk membuang sampah pada tempatnya,” ujar Rashifah Azzahra Herlambang Mahasiswa KKN Unhas Gelombang 115. Pemasangan tempat sampah ini dilakukan di beberapa titik krusial, seperti area dekat jalan utama, balai dusun, dan fasilitas umum lainnya. Masyarakat menyambut baik inisiatif ini, mengingat keterbatasan sarana kebersihan yang ada selama ini seringkali membuat sampah tercecer. Bapak Kepala Desa Bonto Daeng menyampaikan apresiasi yang tinggi atas program kerja ini. “Kehadiran adik-adik mahasiswa memberikan dampak positif, khususnya dalam memicu perubahan perilaku masyarakat terhadap kebersihan lingkungan. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kenyamanan warga desa kami,” tuturnya. Melalui program ini, mahasiswa KKN Unhas 115 berharap Desa Bonto Daeng tidak hanya dikenal karena keramahannya, tetapi juga karena lingkungannya yang bersih, sehat, dan tertata. Kesadaran kolektif yang dibangun saat ini diharapkan dapat terus berlanjut bahkan setelah masa KKN berakhir, demi mewujudkan desa yang mandiri secara ekologis.
Bonto Daeng, 15 Januari 2026 — Kekerasan terhadap anak dan perempuan masih menjadi persoalan serius yang kerap terjadi secara tersembunyi di lingkungan masyarakat, termasuk di wilayah pedesaan. Menyadari kondisi tersebut, Himmatul Azizah Ansar, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 115 Universitas Hasanuddin, menggagas program kerja anak hukum bertajuk “Kades Perkasa: Kader Desa Peduli Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan” sebagai langkah nyata memperkuat perlindungan kelompok rentan di Desa Bonto Daeng. Program Kades Perkasa dirancang sebagai wadah edukasi dan penguatan kapasitas kader desa agar mampu mengenali bentuk-bentuk kekerasan, memahami dampak hukum dan psikologis yang ditimbulkan, serta mengetahui alur pelaporan yang aman dan berpihak pada korban. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan tidak lagi bersikap abai, tetapi berani peduli dan bertindak ketika menemukan indikasi kekerasan di sekitarnya. Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah pihak yang memiliki peran penting dalam perlindungan perempuan dan anak, di antaranya perwakilan PUSPAGA Butta Toa, dengan salah satu perwakilannya hadir sebagai pemateri. Materi yang disampaikan mencakup jenis jenis kekerasan terhadap anak dan perempuan, peran keluarga dan lingkungan dalam pencegahan, serta mekanisme pendampingan korban yang sesuai dengan prinsip perlindungan hak asasi manusia. Turut hadir dalam kegiatan ini Ketua Yayasan Bantuan Hukum Perempuan dan Anak Bangkit Bapak Andi Muh Fuad Ikramulla L, S.H., Kepala Desa Bonto Daeng Bapak Rahman, S.E., M.M., serta Ketua Tim Penggerak PKK Ibu Jusnaeni, S.pd. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menjadi bentuk dukungan dan komitmen bersama dalam menciptakan sistem perlindungan desa yang responsif terhadap kasus kekerasan. Selain itu, kegiatan ini juga diikuti oleh Kader SAPA, Kader PKK, teman-teman mahasiswa KKN-T, serta ibu-ibu Desa Bonto Daeng yang menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung. Diskusi interaktif yang terbangun memperlihatkan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya keberanian untuk melapor dan kepedulian bersama dalam melindungi anak dan perempuan dari segala bentuk kekerasan. Dalam pemaparannya, Himmatul Azizah Ansar menegaskan bahwa program Kades Perkasa tidak hanya berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi diharapkan menjadi gerakan berkelanjutan di tingkat desa. “Melalui kader desa yang teredukasi, korban kekerasan tidak lagi merasa sendirian. Desa harus menjadi ruang aman pertama bagi anak dan perempuan,” ujarnya. Melalui program “Kades Perkasa: Kader Desa Peduli Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan”, Mahasiswa KKN-T 115 Universitas Hasanuddin berharap Desa Bonto Daeng mampu menjadi desa yang berani bersuara, peduli terhadap sesama, dan aktif melawan segala bentuk kekerasan. Program ini menjadi langkah awal menuju desa yang lebih aman, adil, dan berperspektif korban.
Bonto Daeng, 14 Januari 2026 — Mahasiswa Universitas Hasanuddin yang tergabung dalam Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 115 menghadirkan inovasi kreatif dalam pengolahan potensi lokal melalui program bertajuk “Coffee Daeng” di Desa Bonto Daeng. Program yang dipelopori oleh Tasyha Sri Desiana ini fokus pada pemanfaatan biji kopi Arabika sebagai bahan baku pengharum mobil alami. Inisiatif ini muncul sebagai upaya untuk meningkatkan nilai tambah komoditas kopi lokal sekaligus memperkenalkan produk ekonomi kreatif yang sederhana namun memiliki daya jual. Program dilaksanakan melalui rangkaian pelatihan yang melibatkan warga setempat, mulai dari proses pemilihan biji kopi Arabika yang berkualitas, penyangraian (roasting) untuk mengeluarkan aroma yang kuat, hingga teknik pengemasan menggunakan kantong kain estetik yang siap dipasarkan. Upaya ini dimaksudkan agar masyarakat Desa Bonto Daeng, khususnya para penggerak UMKM, memahami bahwa potensi alam desa tidak hanya terbatas pada bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk gaya hidup yang diminati pasar perkotaan. “Biji kopi Arabika memiliki karakteristik aroma yang khas dan mampu menyerap bau tidak sedap secara alami. Melalui 'Coffee Daeng', kami ingin menunjukkan bahwa produk lokal desa bisa bertransformasi menjadi barang yang fungsional dan memiliki nilai ekonomis tinggi,” tutur Tasyha Sri Desiana, Mahasiswa pelaksana program. Beragam elemen masyarakat merespon inovasi ini dengan penuh ketertarikan. Para pelaku usaha kecil di desa turut aktif dalam sesi pembuatan kemasan, melihat peluang ini sebagai ide usaha mikro yang mudah diimplementasikan tanpa membutuhkan modal besar. Salah satu warga Desa Bonto Daeng menyampaikan apresiasinya atas ide segar ini. “Selama ini kami hanya menjual kopi untuk diminum. Ternyata bisa juga dijadikan pengharum mobil yang aromanya sangat enak dan alami. Ini bisa jadi tambahan penghasilan bagi kami di sini,” ungkapnya. Kepala Desa Bonto Daeng Bapak Rahman, S.E., M.M. dan Ketua Tim Penggerak PKK Ibu Jusnaeni, S.PD juga menyatakan dukungannya terhadap kreativitas mahasiswa KKN Unhas. “Kami sangat mengapresiasi inovasi 'Coffee Daeng' ini. Inisiatif seperti inilah yang dibutuhkan desa untuk memicu semangat kewirausahaan berbasis potensi lokal yang ada,” ujarnya. Melalui program “Coffee Daeng”, mahasiswa KKN Unhas Gelombang 115 berupaya memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan ekonomi kreatif desa. Produk ini diharapkan tidak hanya menjadi kenang-kenangan dari masa KKN, tetapi menjadi pemicu bagi warga untuk terus berinovasi dalam mengolah kekayaan alam Desa Bonto Daeng.
Bonto Daeng, 13 Januari 2026 — Mahasiswa Universitas Hasanuddin yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 115 mengambil langkah inovatif dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui program “Budidaya Ikan dalam Ember (BUDIKDAMBER)” di Desa Bonto Daeng. Program yang diprakarsai oleh Risa Yuliani Lubis ini dirancang untuk memberikan solusi praktis bagi warga dalam memproduksi sumber protein hewani dan sayuran secara mandiri di lahan terbatas. Budikdamber merupakan teknik akuaponik sederhana yang menggabungkan budidaya ikan (biasanya lele) dan tanaman sayuran (seperti kangkung) dalam satu wadah ember. Kegiatan ini dilaksanakan secara bertahap, diawali dengan sosialisasi mengenai konsep ketahanan pangan lokal, kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi teknis pembuatan media Budikdamber. Risa Yuliani Lubis mendampingi warga dalam menyiapkan alat dan bahan, mulai dari pelubangan tutup ember untuk gelas plastik bibit kangkung, pemberian media tanam arang, hingga pemilihan bibit ikan lele yang berkualitas. Inisiatif ini bertujuan agar masyarakat Desa Bonto Daeng memiliki alternatif pemenuhan gizi yang hemat biaya namun berdampak besar. Selain sebagai sumber pangan, program ini juga memiliki potensi ekonomi jika dikelola dalam skala yang lebih besar. “Banyak warga yang memiliki lahan terbatas di pekarangan rumah namun ingin tetap produktif. Dengan Budikdamber, mereka tidak hanya mendapatkan ikan, tapi juga sayuran organik dalam satu waktu tanpa memerlukan sistem drainase yang rumit,” tutur Risa Yuliani Lubis, Mahasiswa KKN-T Gelombang 115 Unhas. Warga Desa Bonto Daeng merespon kegiatan ini dengan antusiasme tinggi. Ibu-ibu dan Bapak-Bapak setempat ikut serta mempraktikkan cara merawat air dan memberikan pakan ikan agar hasil panen maksimal. Salah satu warga menyatakan rasa senangnya atas ilmu baru ini. “Sangat bermanfaat karena caranya mudah dan tidak butuh tempat luas. Sekarang kami bisa punya kolam kecil di depan rumah yang juga ada sayurnya. Terima kasih kepada mahasiswa KKN yang sudah membimbing kami,” ungkapnya. Ketua Penggerak Tim PKK turut memberikan apresiasi tinggi terhadap kreativitas mahasiswa. “Kami sangat mendukung program ini. Ini adalah edukasi nyata yang bisa langsung diterapkan warga untuk membantu ekonomi rumah tangga dan kesehatan keluarga lewat pangan mandiri,” ujarnya. Melalui program Budikdamber ini, Mahasiswa KKN Unhas Gelombang 115 berharap dapat menghadirkan dampak yang berkelanjutan. Kemandirian pangan dari skala rumah tangga diharapkan menjadi fondasi kuat bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Desa Bonto Daeng di masa depan.
Bonto Daeng, 8 Januari 2026 — Melanjutkan komitmen dalam membawa perubahan nyata bagi masyarakat, mahasiswa KKN Tematik Gelombang 115 Universitas Hasanuddin menggelar sosialisasi pembuatan semprotan lalat dari bahan alami. Kegiatan yang dipelopori oleh Adinda Rizky Faragishka ini berlangsung di Kantor Desa Bonto Daeng, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng. Sosialisasi ini dihadiri oleh Ketua Tim Penggerak PKK dan Jajarannya, Tokoh Masyarakat Desa Bonto Daeng. Inovasi ini merupakan bagian dari sektor program kerja lingkungan yang sebelumnya telah dipaparkan dalam seminar program kerja di hadapan perangkat desa dan tokoh masyarakat. Sosialisasi ini bertujuan untuk menyelaraskan disiplin ilmu mahasiswa dengan kebutuhan riil warga dalam menjaga sanitasi pemukiman. Dalam pemaparannya, Adinda Rizky Faragiskha menekankan pentingnya beralih dari bahan kimia sintetis ke bahan organik guna menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Program ini tidak hanya fokus pada hasil fisik, tetapi juga pada transfer pengetahuan agar warga mampu memproduksi sendiri alat pengendali hama yang murah dan efektif. Adapun poin-poin utama dalam sosialisasi tersebut meliputi: 1. Pemanfaatan Potensi Lokal: Menggunakan bahan-bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar desa untuk dijadikan cairan pengusir lalat. 2. Keamanan Jangka Panjang: Memberikan edukasi mengenai bahaya pestisida kimia bagi kesehatan keluarga dan ekosistem desa. 3. Kemandirian Desa: Mendorong warga untuk mengadopsi inovasi ini guna memperkuat kemandirian desa dalam bidang kesehatan lingkungan. Ketua Tim Penggerak PKK dan Jajarannya beserta Warga Desa Bonto Daeng memberikan apresiasi tinggi terhadap program ini, mengingat kehadirannya mampu memberikan penyegaran dan solusi praktis bagi tantangan yang dihadapi warga. Senada dengan hal tersebut, para tokoh masyarakat berharap agar gotong royong dalam menerapkan ilmu ini terus berlanjut bahkan setelah masa KKN berakhir. Melalui sinergi antara akademisi dan masyarakat, program semprotan lalat alami ini diharapkan mampu memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi kebersihan dan kenyamanan Desa Bonto Daeng.
Bonto Daeng, 30 Desember 2025 — Mahasiswa Universitas Hasanuddin yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 115 secara resmi memaparkan rencana kontribusinya melalui Seminar Program Kerja yang dilaksanakan di Kantor Desa Bonto Daeng, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng. Kegiatan ini menjadi langkah awal kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat untuk mendorong pembangunan desa yang berkelanjutan. Seminar ini dihadiri oleh Kepala Desa Bonto Daeng, jajaran perangkat desa, Babinsa Desa Bonto Daeng, tokoh masyarakat, Karang Taruna/perwakilan pemuda setempat. Pertemuan ini bertujuan untuk menyelaraskan disiplin ilmu yang dibawa mahasiswa dengan kebutuhan riil masyarakat desa, guna memastikan setiap program kerja yang dicanangkan tepat sasaran. Adapun rencana program kerja yang dipaparkan mencakup berbagai sektor unggulan, mulai dari Edukasi, Pengelolaan Sampah, Budidaya Ikan, Website, UMKM, hingga Program Lingkungan. Mahasiswa berkomitmen untuk tidak hanya membawa perubahan fisik, tetapi juga melakukan transfer pengetahuan kepada warga desa. “Kami datang dengan semangat pengabdian untuk belajar sekaligus memberi manfaat. Melalui seminar ini, kami berharap mendapatkan masukan dan dukungan penuh dari masyarakat agar program-program yang kami susun benar-benar mampu menjawab tantangan yang ada di Desa Bonto Daeng,” tutur Koordinator Desa KKN Unhas Gelombang 115. Kepala Desa Bonto Daeng menyambut hangat kehadiran para mahasiswa dan menyatakan dukungannya terhadap rencana kegiatan tersebut. Ia berharap kehadiran mahasiswa Unhas dapat memberikan penyegaran dan inovasi baru, khususnya dalam mengoptimalkan potensi desa agar lebih dikenal luas. Respons positif juga datang dari tokoh masyarakat yang hadir. Mereka berharap program kerja yang telah disepakati dapat dilaksanakan secara gotong royong, sehingga meninggalkan jejak positif yang dapat dirasakan manfaatnya meskipun masa KKN telah berakhir. Melalui seminar program kerja ini, KKN Unhas Gelombang 115 berupaya mewujudkan pengabdian yang nyata dan berdampak. Sinergi antara akademisi dan masyarakat diharapkan mampu menciptakan kemandirian desa serta mempererat jejaring antara universitas dan daerah.
Badan Permusyawaratan Desa adalah lembaga perdujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan Desa. BPD adalah lembaga yang melaksanakan fungsi pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil dari penduduk Desa berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis. BPD bertugas melakukan evaluasi laporan keterangan penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Evaluasi laporan merupakan evaluasi atas kinerja Kepala Desa selama 1 tahun anggaran. Pelaksanaan evaluasi dilakukan berdasarkan prinsip demokratis, responsif, transparansi, akuntabilitas, dan objektif. BPD mempunyai wewenang untuk membahas rancangan peraturan Desa bersama kepala Desa, melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan Desa, mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala Desa, membentuk panitia pemilihan kepala Desa, dan menyusun tata tertib BPD. Keanggotaan BPD di Desa Bonto Daeng ini merupakan hasil musyawarah Desa. Dengan masa jabatan BPD 1997-2010 yang diketuai oleh H. Nurdin M. Dalam menjalankan tugasnya, BPD Desa Bonto Daeng dibantu oleh seorang Sekertaris yang diusulkan oleh Kepala Desa dengan persetujuan BPD melalui Surat Keputusan (SK) Bupati. BPD dianggap cukup menjalankan peran dan fungsinya. BPD sudah mampu memfasilitasi aspirasi masyarakat Desa, baik yang terkait dengan pelaksanaan pembangunan Desa yang dilakukan oleh pemerintah Desa maupun hal-hal lainnya yang berhubungan dengan kebijakan ditingkat Kabupaten Bantaeng.
Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) menjadi salah satu wadah yang ada di Desa Bonto Daeng sebagai media masyarakat dalam Upaya pemberdayaan masyarakat. Lembaga pemberdayaan masyarakat ini terlibat aktif dalam proses perencanaan Musrenbang (musyawarah perencanaan pembangunan). LPM harus hadir sebagai salah satu Lembaga yang memfasilitasi keberlangsungan dan kelancaran penyusunan dokumen hasil musrenbang (musyawarah perencanaan pembangunan). LPM merupakan lembaga pengganti Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), lembaga ini berperan membantu pemerintah Desa dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan di Desa.
Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di Desa Bonto Daeng sudah terbentuk sejak tahun 2024. BUMDES ini terdiri dari 1 orang Direktur, 1 orang sekretaris, 1 orang bendahara, serta dibantu oleh beberapa kepala unit usaha. Jumlah kepala unit usaha sesuai dengan kebutuhan. Saat ini BUMDES masih berada pada tahap pendampingan dimana prosesnya terdapat penguatan kelompok dan pembuatan AD/ART maupun pembenahan sekretariat dan perlengkapan lainnya. BUMDES dibentuk bertujuan sebagai lembaga ekonomi induk di Desa. Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) termasuk wadah pengembangan dan peningkatan ekonomi masyarakat Desa. BUMDES ini bergerak dalam sektor usaha Desa dan juga bergerak sebagai pengelola di sektor kepariwisataan. BUMDES Bonto Daeng saat ini berfokus pada pemberdayaan dan peningkatan sumber daya manusia yang ada di Desa Bonto Daeng.
Majelis Taklim adalah sebuah sebutan untuk lembaga pendidikan non-formal islam yang memiliki kurikulum sendiri, diselenggarakan secara berkala dan teraturdan diikuti oleh jamaah yang relatif banyak. Majelis taklim di Desa Bonto Daeng terdapat perwakilan 5 orang dalam setiap dusun yang menjadi pengurus majelis taklim dan terdapat total 25 pengurus majelis taklim Desa Bonto Daeng. Majelis Taklim Desa Bonto Daeng mengadakan pengajian rutin dan pelatihan pengajaran jenazah minimal 1 kali dalam satu bulan dan dilakukan per dusun secara bergiliran.
Karang Taruna Desa Bonto Daeng terbentuk sejak periode terbentuknya pemerintahan Desa dan program kerjanya lebih terfokus pada kegiatan olahraga. Karang taruna terdiri dari 1 orang ketua, orang wakil ketua, 1 orang sekertaris, 1 orang wakil sekertaris, 1 orang bendahara dan 1 orang wakil bendahara. Serta dibantu oleh beberapa orang yang dibantu oleh beberapa seksi. Karang taruna sipakalabbiri mendapatkan alokasi dana desa (ADD) dengan maksud untuk menunjang kegiatan karang taruna yang akan dilakukan. Karang Taruna (Sipakalabbiri) menjadi wadah pemuda-pemudi Desa Bonto Daeng. Wadah yang dimaksud sebagai Lembaga yang bergerak dalam sosial dan olahraga, kemudian menjadi sumber pengembangan sumber daya manusia (SDM). Tujuan dibentuk karang taruna agar pemuda pemudi dapat menyalurkan bakatnya, berkreasi dan berinovasi sehingga dapat mewujudkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan progresif sebagai yang tertuang diaditya karya mahadiva yodha. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan keagamaan, olahraga, keseniaan, pariwisata, serta kegiatan sosial. Kehadiran karang taruna di Desa Bonto Daeng dapat mengcover pemuda didalam pembinaan karakter serta sikap dan tingkah laku.
Pengurus PKK ditingkat Desa Bonto Daeng dipimpin oleh 1 orang Ketua, satu orang Sekertaris, 1 orang Bendahara dan dibantu oleh beberapa kelompok kerja. Pada tingkat dusun dan tingkat Rukun Tetangga, terdapat pula beberapa kelompok Dasa Wisma yang diketuai oleh 1 orang Ketua. Kelompok ini beranggotakan kaum perempuan (ibu-ibu) yang ada di dusun tersebut. Masyarakat menganggap PKK cukup berperan dalam meningkatkan kesejahteraan anggotanya, utamanya perempuan miskin dimana mereka sering dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan PKK. Biasanya dilibatkan juga staf Desa mengikuti lomba seperti gerak jalan indah dalam rangka hari-hari besar. Adapun VISI dan MISI PKK yaitu : VISI: Terwujudnya keluarga yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia dan berbudi luhur, sehat sejahtera lahir batin. MISI: 1. Meningkatkan pembentukan karakter keluarga melalui penghayatan, pengamalan pancasila, kegotong royongan serta kesetaraan dan keadilan gender. 2. Meningkatkan pendidikan dan ekonomi keluarga melalui berbagai upaya keterampilan dan pengembangan koperasi. 3. Meningkatkan ketahanan keluarga melalui pemenuhan pangan, sandang dan perumahan sehat dan layak huni. 4. Meningkatkan derajat kesehatan keluarga, kelestarian lingkungan hidup serta perencanaan sehat. 5. Meningkatkan pengelolaan gerakan PKK meliputi kegiatan pengorganisasian dan peningkatan sumber daya Manusia. Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga di Desa Bonto Daeng terdapat 4 bidang (Pokja) : 1. Pokja 1 bergerak di bidang Pelatihan Pancasila 2. Pokja 2 bergerak di bidang Pendidikan dan keterampilan (Pelatihan menjahit) 3. Pokja 3 bergerak di bidang Sandang dan Pangan (pengelolaan hasil pertanian dan sosialisasi cara berbusana dengan baik) 4. Pokja 4 bergerak di bidang kesehatan (kader posyandu, bekerja sama dengan puskesmas dengan menimbang bayi setiap 1x bulan dan memberikan informasi ke puskesmas jika terdapat orang yang sakit (lansia)).
Sistem pelayanan publik di Desa Bonto Daeng saat ini berfokus pada kemudahan akses dan keramahan tata kelola administrasi bagi seluruh lapisan masyarakat. Pelayanan dipusatkan di Kantor Desa dengan mengedepankan prinsip transparansi, di mana perangkat desa aktif membantu warga dalam pengurusan dokumen administratif seperti Kartu Keluarga, pembuatan surat keterangan, dan urusan persuratan lainnya. Selain aspek administratif, sistem pelayanan di desa ini juga sangat mengandalkan nilai gotong royong dan komunikasi dua arah melalui musyawarah pembangunan desa. Integrasi teknologi juga mulai diperkenalkan secara bertahap untuk mempercepat proses pelaporan dan distribusi informasi program bantuan pemerintah, sehingga pelayanan tidak hanya berjalan secara manual tetapi juga mulai menuju arah digitalisasi yang lebih efisien seperti link pengaduan masyarakat berikut: https://forms.gle/k7jHkJMRarJ2LPMT6
Desa Bonto Daeng merupakan salah satu dari 6 Desa yang menjadi bagian dari wilayah Pemerintahan Kecamatan Uluere dengan jarak tempuh 2,5 km dari Ibukota Kecamatan dan sekitar 18 km dari Ibukota Kabupaten Bantaeng. Perjalanan ke Desa Bonto Daeng dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda empat dan roda dua, dengan waktu tempuh sekitar 35 menit dari ibu kota kabupaten. Desa Bonto Daeng mempunyai luas wilayah 1.047 Ha, atau sekitar 10,47 km2. Secara geografis Desa Bonto daeng berbatasan dengan: Desa kassi kabupaten Jeneponto sebelah barat nya, Desa Bonto Tallasa sebelah selatan, sebelah timur berbatasan dengan Desa Bonto Tangnga, dan sebelah utara berbatasan dengan Desa Bonto Marannu. Secara administratif pemerintahan Desa Bonto Daeng terbagi menjadi 5 dusun yaitu: Dusun Bungayya, Dusun Borong Tangnga, Dusun Lembang-lembang, Dusun Tamaona, dan Dusun Lapparaka (ibu kota Desa). Desa Bonto Daeng, yang terletak di Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, memiliki karakteristik geografis yang sangat khas sebagai daerah dataran tinggi. Berada pada ketinggian yang cukup signifikan di lereng Gunung Lompobattang, desa ini menyuguhkan bentang alam berupa perbukitan yang bergelombang dan lembah-lembah yang hijau. Suhu udara di wilayah ini cenderung sejuk hingga dingin, yang menjadi pembeda utama dibandingkan dengan wilayah pesisir Bantaeng. Kondisi topografi yang miring ini memberikan pemandangan alam yang memukau, di mana kabut seringkali turun menyelimuti pemukiman warga pada pagi dan sore hari. Kekayaan sumber daya alam di Desa Bonto Daeng sangat didukung oleh kondisi tanahnya yang subur, berjenis tanah vulkanik yang kaya akan unsur hara. Keunggulan geografis ini dimanfaatkan secara optimal oleh penduduk setempat untuk sektor pertanian hortikultura. Desa ini dikenal sebagai salah satu lumbung sayur-mayur di Kabupaten Bantaeng, dengan komoditas utama seperti kentang, kubis, wortel, dan bawang merah. Sistem terasering sering dijumpai di lahan-lahan pertanian warga guna mencegah erosi tanah sekaligus memaksimalkan pemanfaatan lahan di area yang memiliki kemiringan cukup curam. Selain aspek relief dan kesuburan tanah, letak geografis Desa Bonto Daeng juga sangat strategis dalam mendukung ketersediaan air bersih di wilayah sekitarnya. Sebagai daerah tangkapan air (catchment area), kawasan ini memiliki banyak mata air alami yang mengalir jernih sepanjang tahun. Keberadaan vegetasi yang masih terjaga di bagian hulu membantu menjaga siklus hidrologi, sehingga pasokan air untuk kebutuhan domestik maupun irigasi pertanian tetap stabil. Integrasi antara iklim yang mendukung, tanah yang subur, dan ketersediaan air menjadikan Desa Bonto Daeng sebagai wilayah yang memiliki potensi agrowisata yang sangat besar di masa depan. Link maps Desa Bonto Daeng: https://maps.app.goo.gl/pLk88kP4qsGrRjjA7?g_st=ac
Desa Bonto Daeng dahulu merupakan suatu kampung kecil, keberadaan tempat tinggal atau rumah penduduk masih terpencar-pencar yang diberi nama Kampung Pa’lipungan, tepatnya pada tahun 1920 yang dipimpin oleh Jannang Puro’ atau biasa juga disebut Kepala Kampung. Dua belas tahun kemudian tepatnya pada tahun 1932 Kampung Pa’lipungan diubah menjadi Kampung Tamaona yang berarti Tama’onang’ artinya di kampung ini masalah-masalah yang muncul silih berganti dan hampir tidak ada ujung pangkalnya, masalah kecil bisa menjadi besar dan tiada habisnya. Struktur Pemerintahan Desa Bonto Daeng pada awal mula berdirinya dimulai dari Desa Persiapan, kemudian diresmikan menjadi Desa defenitif berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Nomor 1462/XXI/Tahun 1998 pada tanggal 29 Desember 1998 yang terbagi dalam dua dusun yaitu : Dusun Tamaona dan Dusun Lembang-lembang dimana Pejabat Kepala Desa pertama pada saat itu adalah Bapak Syamsuddin Bin H. Samiun. Seiring berjalannya waktu jumlah penduduk semakin meningkat maka Desa Bonto Daeng yang pada mulanya hanya dua dusun, akhirnya dibagi menjadi 4 (empat dusun) yaitu : Dusun Tamaona, Dusun Bungayya, Dusun Borong Tangnga, dan Dusun Lembang-lembang. Setelah masa jabatan Bapak Syamsuddin berakhir pada bulan Februari Tahun 2005, maka diadakan Pemilihan Kepala Desa kedua kalinya, dan pada pemilihan tersebut Bapak Nawir, S.Ap. terpilih menjadi Kepala Desa dan mendapat kepercayaan untuk memimpin Desa Bonto Daeng Periode 2005-2010. Pada tahun 2018, ketika Bapak Nawir, S.Ap. menjabat Kepala Desa untuk periode ketiga, Dusun Lapparaka diresmikan. Sehingga terdapat 5 (lima dusun) di Desa Bonto Daeng. Dalam wilayah Desa ini sejak tahun 1965 pendidikan Sekolah Rakyat (SR) sudah masuk, selanjutnya pada tahun yang sama (1965) diubah menjadi Sekolah Dasar (SD) yang ditempatkan di bawah kolom rumah warga. Pada tahun 1967 dibangun sekolah semi permanen yang terbuat dari kayu, sekolah ini dipakai selama tujuh tahun. Atas instruksi Presiden Republik Indonesia sekolah tersebut diubah menjadi Sekolah Dasar Inpres Tamaona tepatnya tahun 1974. Selanjutnya pada tahun 1980 SD Inpres Tamaona di bangun secara permanen beserta tiga unit perumahan guru, kemudian pada tahun 1986 karena sekolah sulit dijangkau oleh dusun lain khususnya Dusun Borong Tangnga dan Lembang-Lembang maka pemerintah berinisiatif untuk membangun SD Inpres Paranga pada tahun 1982 yang masih digunakan sampai sekarang. Penyusunan visi Desa Bonto Daeng mengacu pada visi dan misi kepala Desa terpilih dengan beberapa referensi lain yang melibatkan seluruh elemen yang menegdepankan tingkat partisipatif dan musyawarah. Desa Bonto Daeng memiliki Visi dan Misi sebagai berikut: Visi: "Terwujudnya masyarakat Desa Bonto Daeng yang sehat dan sejahtera yang mengarah pada kemajuan dan keadilan dengan berlandaskan pada nilai-nilai agama dan budaya lokal". Untuk dapat memperjelas arti dan makna yang terkandung pada VISI tersebut di atas, maka saya akan menguraikannya sebagai berikut : 1. Sehat, dapat diartikan bahwa setiap warga Desa Bonto Daeng berhak atas penghidupan yang produktif baik secara sosial maupun ekonomi. 2. Sejahtera, dapat diartikan bahwa tersedianya lapangan kerja tetap bagi masyarakat, meningkatnya taraf hidup petani dan profesi masayakat lainnya dalam rangka pemenuhan kebutuhan kehidupan diri dan keluarganya sehingga posisi masyarakat menjadi lebih bernilai. 3. Kemajuan, dapat dimaknai bahwa Bonto Daeng harus menjadi Desa yang semakin baik ke depannya yang dapat berdaya saing baik dari aspek Sumber Daya Manusia, Pelayanan Masyarakat, Teknologi, Ekonomi Masyarakat dan pada aspek kehidupan lainnya. 4. Keadilan, dapat diartikan bahwa segala proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan Desa harus berjalan dengan tanpa membedakan setiap hak warga Desa. Hal ini dapat dilakukan dengan cara pemberdayaan masyarakat melalui strategi pelibatan penuh masyarakat yakni mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi dan pemeliharaan. 5. Nilai-nilai Agama, dapat dimaknai bahwa setiap aktivitas yang dilaksanakan oleh aparatur pemeritah Desa Bonto Daeng dan masyarakat Desa Bonto Daeng dapat mencerminkan prilaku hidup terpuji sebagai perwujudan dari nilai-nilai agama. 6. Budaya Lokal, dapat diartikan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat senantiasa kita untuk saling Sipakainga, Sipassirikki, Sikapaccei, Sikamaseang, dan Sipassamaturukki agar tali persaudaraan tetap kokoh sehingga dapat menjadi kunci kesuksesan dalam membangun Desa Bonto Daeng yang kita cintai bersama. Misi: Misi merupakan pernyataan yang menetapkan tujuan instansi pemerintah dari sasaran yang ingin dicapai. Pernyataan ini membawa pemerintah Desa kepada suatu fokus dalam mencapai tujuan tersebut. Misi menjelaskan mengapa organisasi itu ada, apa yang dilakukannya dan bagaimana melakukannya. Misi adalah sesuatu yang dilaksanakan / diemban oleh instansi pemerintah sebagai penjabaran dari visi yang telah di tetapkan. Dengan pernyataan misi diharapkan seluruh pihak berkepentingan dapat mengenal instansi pemerintah, peran dan fungsi masing-masing. Pernyataan misi yang jelas akan memberikan arah dan jangka panjang dan stabilitas dalam manajemen dan kepemimpinan Desa Bonto Daeng. Berikut ini adalah misi Desa Bonto Daeng untuk mendukung pencapaian visi yang tersebut di atas: 1. Mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas 2. Mewujudkan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat 3. Mewujudkan peningkatan infrastruktur Desa secara berkualitas dan merata 4. Mendorong peningkatan etos kerja pemuda dalam mewujudkan produktivitas kelompok pemuda 5. Mewujudkan pengembangan ekonomi kerakyatan yang produktif dengan berbasis pada potensi lokal Desa Bonto Daeng 6. Optimalisasi penguatan BUMDES sebagai pilar ekonomi Desa 7. Mewujudkan lingkungan hidup yang sehat, bersih dan aman 8. Mendorong lahirnya prestasi-prestasi dikalangan pemuda baik pada bidang olahraga maupun pada bidang lainnya 9. Mendorong keaktifan kelembagaan pemerintahan dan kelembagaan kemasyarakatan Desa 10. Mewujudkan peningkatan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan Desa 11. Mewujudkan sistem informasi Desa secara merata dan memadai 12. Optimalisasi tata kelola pemerintahan Desa 13. Mewujudkan sistem pelayanan masyarkat yang prima 14. Optimalisasi sarana dan prasarana tempat ibadah 15. Mendorong keaktifan kegiatan keagamaan dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal Desa Bonto Daeng