Bonto Daeng, 15 Januari 2026 — Kekerasan terhadap anak dan perempuan masih
menjadi persoalan serius yang kerap terjadi secara tersembunyi di lingkungan masyarakat,
termasuk di wilayah pedesaan. Menyadari kondisi tersebut, Himmatul Azizah Ansar,
mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 115 Universitas Hasanuddin,
menggagas program kerja anak hukum bertajuk “Kades Perkasa: Kader Desa Peduli Kekerasan
terhadap Anak dan Perempuan” sebagai langkah nyata memperkuat perlindungan kelompok
rentan di Desa Bonto Daeng.
Program Kades Perkasa dirancang sebagai wadah edukasi dan penguatan kapasitas
kader desa agar mampu mengenali bentuk-bentuk kekerasan, memahami dampak hukum dan
psikologis yang ditimbulkan, serta mengetahui alur pelaporan yang aman dan berpihak pada
korban. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan tidak lagi bersikap abai, tetapi berani
peduli dan bertindak ketika menemukan indikasi kekerasan di sekitarnya.
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah pihak yang memiliki peran penting dalam
perlindungan perempuan dan anak, di antaranya perwakilan PUSPAGA Butta Toa, dengan
salah satu perwakilannya hadir sebagai pemateri. Materi yang disampaikan mencakup jenis
jenis kekerasan terhadap anak dan perempuan, peran keluarga dan lingkungan dalam
pencegahan, serta mekanisme pendampingan korban yang sesuai dengan prinsip perlindungan
hak asasi manusia.
Turut hadir dalam kegiatan ini Ketua Yayasan Bantuan Hukum Perempuan dan
Anak Bangkit Bapak Andi Muh Fuad Ikramulla L, S.H., Kepala Desa Bonto Daeng
Bapak Rahman, S.E., M.M., serta Ketua Tim Penggerak PKK Ibu Jusnaeni, S.pd.
Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menjadi bentuk dukungan dan komitmen
bersama dalam menciptakan sistem perlindungan desa yang responsif terhadap kasus
kekerasan.
Selain itu, kegiatan ini juga diikuti oleh Kader SAPA, Kader PKK, teman-teman
mahasiswa KKN-T, serta ibu-ibu Desa Bonto Daeng yang menunjukkan antusiasme tinggi
selama kegiatan berlangsung. Diskusi interaktif yang terbangun memperlihatkan
meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya keberanian untuk melapor dan
kepedulian bersama dalam melindungi anak dan perempuan dari segala bentuk kekerasan.
Dalam pemaparannya, Himmatul Azizah Ansar menegaskan bahwa program Kades
Perkasa tidak hanya berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi diharapkan menjadi gerakan
berkelanjutan di tingkat desa. “Melalui kader desa yang teredukasi, korban kekerasan tidak lagi
merasa sendirian. Desa harus menjadi ruang aman pertama bagi anak dan perempuan,” ujarnya.
Melalui program “Kades Perkasa: Kader Desa Peduli Kekerasan terhadap Anak dan
Perempuan”, Mahasiswa KKN-T 115 Universitas Hasanuddin berharap Desa Bonto Daeng
mampu menjadi desa yang berani bersuara, peduli terhadap sesama, dan aktif melawan segala
bentuk kekerasan. Program ini menjadi langkah awal menuju desa yang lebih aman, adil, dan
berperspektif korban.